Translate

Mencari Artikel

FIND(Mencari)

Monday, 10 February 2014

Malas dan Obatnya



MALAS
            Selanjutnya Nabi SAW mengajarkan kepada kita untuk berlindung kepada Allah dari sifat malas (Kaslun).

5.1.            Pengertian Malas
Dalam kamus besar bahasa Indonesia malas diartikan tidak mau bekerja atau tidak mau mengerjakan sesuatu. Atau lebih senang mengemis daripada bekerja. Atau tidak memiliki nafsu untuk bekerja. Tidur-tiduran. Tanpa berbuat sesuatu. Atau berleha-leha. Duduk-duduk. Senang di tempat tidur. Atas ogah melakukan perbuatan-perbuatan yang berguna.

Seputar Konsep Karir



KONSEP SEPUTAR KARIR
Manajemen karir mencakup berbagai konsep yang sampai saat ini masih sering diperdebatkan definisinya. Meskipun demikian kita perlu mengetahui dan memahami definisi berbagai konsep yang berhubungan dengan manajemen kerier, agar kita mamiliki pemahaman yang lebih baik tentang manajemen karir.
Dalam hal ini, ada beberapa kata kunci yang perlu dijelaskan, yaitu :

Monday, 16 September 2013

Mengobati Sedih


3.1.            Mengobati Sedih
Agar kesedihan tersebut tidak berlarur-larut maka perlu segera diobati. Jika tidak maka akan menggerogoti jiwa kita, yang ujungnya adalah menimbulkan penyakit fisik yang dapat membawa kepada penyakit kronis hingga kematian.

Sedih

Selanjutnya Nabi SAW mengajarkan kepada kita untuk berlindung kepada Allah dari sifat sedih (hazan). Biasanya kita akan bersedih tatkala kehilangan sesuatu. Misalnya kehilangan orang tua, kehilangan anak hingga kehilangan harta benda karena bencana alam atau kebakaran atau perampokan atau kecurian.

Friday, 13 September 2013

Obat Gelisah

Cara Pandang Yang Salah
Sebagian besar sumber kegelisahan atau ketakutan berada pada fikiran. Karena itu untuk menghancurkan sifat gelisah harus merubah mindset atau cara berfikir. Yaitu membalik rasa gelisah menjadi optimis. Sebab dibalik kesulitan itu selalu ada kemudahan. Bahkan menjadikannya sebagai peluang atau pemicu semangat.
Contohnya orang yang gelisah karena takut di-PHK, maka ia harus merubah fikiran bahwa rejeki Allah itu bukan hanya di perusahaan. Tapi ada di pasar-pasar, di internet, di jalan-jalan, bahkan di penjara.
Hamka misalnya menulis tafsir Al Azhar di penjara. Demikian halnya Sayyid Qutb menulis Fii Dzilaalil Qur’an dalam kungkungan rezim dikatator Mesir. Lalu Imam Ibnu Taymiyah dan Imam Ibnul Qayyim banyak menulis buku dalam penjara. Dan semuanya itu kini menjadi berkah atau rizki yang melimpah bagi para penerjemah, penerbit, distributor hingga pembacanya.

Instropeksi Diri
Selanjutnya melakukan instropeksi diri. Jangan-jangan kita banyak dosa dan kesalahan sehingga menimbulkan jiwa yang penakut. Jiwa yang lemah. Jiwa yang cengeng. Jiwa yang mudah diintervensi oleh setan melalui rasa takut, hilangnya rizki dan kemiskinan.

Minta Nasehat
Gelisah juga dapat diobati dengan bercerita kepada orang lain. Misalnya kepada istri, orang tua kita, guru kita atau orang shalih lainnya yang kita percaya. Dengan bercerita maka beban tersebut akan berkurang. Lebih-lebih jika disertai permintaan nasehat dari orang-orang shalih.
Sebab salah satu kewajiban muslim terhadap muslim lainnya adalah memberikan nasehat apabila diminta oleh saudaranya. Dengan nasehat-nasehat yang indah sebagaimana ditampilkan dalam buku Laa Tahzan,  maka akan membangkitkan gairah untuk menempuh hidup yang lebih baik lagi.

Pergi ke Psikolog
Jika langkah-langkah di atas tidak dapat diselesaikan tidak ada salahnya anda pergi ke psikolog atau psikiater. Karena merekalah orang yang ahli dalm ilmu jiwa. Tentunya kepada psikolog muslim yang shalih dan paham agama. Perlu diketahui pula bahwa orang yang pergi ke psikiater bukanlah orang yang sakit jiwa. Tapi orang yang memiliki masalah untuk dipecahkan.

Pergi Ke Dokter
Jika gelisah dan ketakutan sudah semakin akut dan menimbulkan penyakut fisik seperti maag hingga pening atau migren, maka sebaiknya segera ke dokter untuk mendapatkan terapi dan pengobatan. Sebab jika dibiarkan penyakit tersebut akan berkembang menjadi penyakit-penyakit lainnya yang lebih berbahaya semisal stroke.

Membaca Kisah Orang Shalih
Terapi lainnya yaitu dengan membaca kisah orang sahlih. Misalnya cara Ali bin Abi Thalib menghadapi gelisah. Beliau adalah khalifah keempat, sepupu dan menantu nabi SAW. Meskipun demikian hidupnya sangat sederhana dan pas-pasan. Namun apa yang dilakukan oleh beliau ketika gelisah, tiada lain beliau minta pertolongan kepadaNya. Dalam syairnya beliau berkata :
“Kala hati diliputi dengan rasa putus asa
dan dada yang lapang sesak karenanya,
Kala hati disesaki dengan ketidak-enakan
Dan semua perkara bertumpuk menyatu,
Kala tak ada lagi terlihat bahaya yang akan tersingkap
tidak akan berguna segala upaya
Pertolongan akan datang pada keputusasaanmu
dari Yang Maha Dekat dan Maha Pengabul Permintaanmu
Jika semua peristiwa telah habis waktunya
akan bersambunglah pertolongan yang membukamu.”[1]
Demikian halnya yang dilakukan oleh Harun Ar Rasyid pada saat kritis akan menemui ajalnya. Ia menyenandungkan syair dan ketergantungan kepada Allah SWT.
”Kini di Thus aku bermukim
Tanpa seorangpun sahabat kumiliki
Aku berharap kepada Allah apa yang menimpaku
Sungguh selama ini Ia telah menyayangiku
Di Thus telah menghampiriku
Qadha-Nya yang telah ditetapkan bagiku
Tiada lain kupersembahkan kecuali
Keridhaan, kesabaran dan berserah diri.”[2]
Baca pula kisah sahabat Abdullah bin Hudzaifah di zaman khalifah kedua Umar bin Khatab. Tatkala beliau diangkat sebagai komandan perang menghadapi tenatara Salib Romawi yang sering mengganggu kaum muslimin di Syam (Syria, Palestina dan Yordania). Namun sayang karena pasukannya yang sedikit dan kalah kekuatan dari pasukan musuh, maka beliau ditangkap tentara Romawi dan dihadapkan kepada rajanya.
Maka terjadilah dialog antara raja dan Abdullah
”Sudilah engkau masuk dalam agama nashrani, saya akan mengajak engkau duduk dalam pemerintahan dan saya akan mengawinkan dengan putriku!”
”Andaikata engkau memberikan kepada saya segala apa yang dimiliki orang arab agar saya masuk murtad dari agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW, walaupun hanya sesaat, saya tidak akan mau melakukan perbuatan itu.”
”Kalau begitu engkau akan saya bunuh.”
”Silahkan kalau itu maumu.”
Raja Rum pun memerintahkan untuk membunuhnya dengan cara di taruh pada kayu salib. Dalam keadaan tersalin raja memerintahkan regu penembak untuk mengeksekusinya. Abdullah ditembak dekat tangan dan kakinya (rupanya pelurunya meleset tidak mengenainya).
Melihat hal ini raja heran, namun demikian raja tetap mendesaknya untuk masuk agama Nashrani. Namun Abdullah tetap tidak bergeming. Akhirnya Abdulah diturunkan dari kayu salib.
Riwayat lainnya menyatakan beliau disiksa dengan dimasukkan dalam kuali besar kemudian dipanaskan dengan api.
Riwayat lainnya menyatakan bahwa raja memenjarakannya dan tidak diberikan makanan dan minuman hingga beberapa hari. Dalam keadaan lapar dan haus, raja mengirimkan kepada Abdulah khamr dan daging babi. Tetapi beliau tidak mau mendekatyi makanan dan minuman yang haram tersebut.
Raja keheranan dan kemudian memanggilnya.
”Apakah yang melarangku makan?”
Abdulah menjawab, ”Sebenarnya dalam keadaan darurat, saya boleh makan makanan dan minuman tersebut, tetapi aku tidak ingin menggembirakan engkau dengan perbuatan seperti itu.”
”Kalau begitu ciumlah kepalaku maka aku akan membebaskanmu.”
”Aku mau mencium kepalamu dengan syarat engkau membebaskan seluruh tawanan (kaum muslimin)!”
”Baiklah, ” kata raja.
Maka Abdulah pun mencium kepala raja Nashrani demi pembebasan kawan-kawannya yang ditawan. Maka kemudian raja melepaskan Abdullah dan seluruh tawanan.
Maka sekembali di kota Medinah beliau disambut meriah oleh khalifah Umar. Dan Umar mengumumkan kepada kaum muslimin tentang kedatangan komandan yang berani, memiliki mental baja dan gigih dalam imannya. Mak Umar kemudian mencium kepala Abdulah untuk menghormati kegagahan dan keperwiraannya. Yang selanjutnya disusul oleh kaum muslimin lainnya.
Itulah iman yang kuat. Iman yang mampu menghilangkan sifat gelisah, sedih dan gundah gulana. Untuk itu kenapa kita harus bersedih, padahal belum pernah datang ujian pada diri kita sebagaimana yang dialami Abdullah. Atau yang pernah dialami Bilal, bahkan Nabi sekalipun yang pernah ditaburi kotoran hewan ketika sholat di Masjidil haram dihadapan putrinya, fathimah RA.
Pada hari ini kita masih bisa makan dan minum. Masih bisa bekerja dengan baik. Masih sehat wal’afiat. Masih punya istri dan anak-anak yang berbakti. Masih hidup merdeka. Masih hidup bebas. Tidak dijajah. Tidak ditawan. Tidak pula di ujung pedang. Maka tetaplah tegar, optimis dan gembira dengan iman, islam dan nikmat sehat yang dikaruniakan Allah kepada kita semua.




[1] Imam As Suyuthi, Tarikh Khulafa’, Pustaka Al Kautsar (Jakarta:2001), hal. 212.
[2] DR. Syauqi Abu Khalil, Pustaka Al Kautsar (Jakarta:2006), hal. 48.

Wednesday, 11 September 2013

Haji Ifrad

Haji Ifrad 
Yaitu Melaksanakan secara terpisah antara haji dan umrah, dimana masing-masing dikerjakan tersendiri, dalam waktu berbeda tetapi tetap dilakukan dalam satu musim haji. Pelaksanaan ibadah Haji dilakukan terlebih dahulu selanjutnya melakukan Umrah dalam satu musim haji atau waktu haji.

Dibatas miqat sebelum memasuki Mekah jemaah haji harus sudah memakai pakaian ihram serta niat untuk melaksanakan "Ibadah Haji" sekaligus "Ibadah Umrah". Jama'ah harus tetap berpakaian ihram sampai selesai melaksanakan kedua ibadah tersebut yaitu sejak tiba di Mekah sampai lepas hari Arafah 9 Zulhijah. Selama memakai pakaian ihram segala larangan harus ditaati  dan jema'ah yang memilih haji ifrad disunatkan melakukan Tawaf Qudum, yaitu tawaf sunat saat baru tiba di Mekah. Haji Ifrad memang paling berat tetapi juga paling tinggi kualitasnya karena itu yang melaksanakan Haji Ifrad tidak dikenakan Dam atau denda

Tuesday, 10 September 2013

Melihat Ke Bawah

Melihat Ke Bawah
Secara akal banyak jalan untuk menghadapi gelisah. Diantaranya dengan cara banyak melihat ke bawah. Atau melihat orang lain yang kurang beruntung dibandingkan kita. Misalnya dengan cara menonton acara JIKA AKU MENJADI. Dalam acara ini kita menyaksikan betapa banyak orang yang lebih sulit kehidupannya dibandingkan diri kita.
Atau acara BEDAH RUMAH. Dalam acara ini kita menyaksikan banyak saudara kita yang rumahnya sangat sederhana. Seperti gubuk. Atau hanya terdiri dari bambu dan jerami. Atau rumahnya hampir rubuh. Serta penghuninya juga tidak memiliki penghasilan yang jelas dengan penghasilan pas-pasan.
Bisa pula dengan melihat kisah Taripin. Seorang anak kecil di daerah Jawa Timur yang harus menghidupi adik-adiknya. Dengan cara menjadi buruh. Dan hidup dalam rumah yang hampir rubuh serta disangga oleh berbagai balok. Karena ibunya meninggal dunia, sementara ayahnya merantau ke Kalimantan dan tidak ada kabar beritanya.

Bocah ini akhirnya dapat sekolah dan mereguk kebahagiaan setelah beritanya di televisi mendapatkan respon dari Presiden SBY dalam twiternya. Kemudian beliau mengirimkan staf khususnya untuk memberikan bantuan.  Bahkan kepala desa hingga militer disana dengan suka rela memperbaiki rumah Taripin yang hampir ambruk. Kebahagiaan tersebut semakin lengkap ketika ayahnyapun akhirnya pulang menjenguknya serta tidak akan merantau lagi demi mendidik anak-anaknya yang masih belum baligh tersebut.

Monday, 9 September 2013

Ahli Ilmu atau Penuntut Ilmu

Menjadi Ahli Ilmu atau Penuntut Ilmu
            Agar ketakutan terhadap makhluk hilang, maka Allah mewasiyatkan kepada kita untuk menjadi ahli ilmu. Untuk itu maka tidak ada cara lain kecuali terus menerus menuntut ilmu. Baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi.
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ        
”...Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(Faathir 35:28).
            Menurut Imam Ibnu Katsier yang dimaksud ulama adalah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ataau orang yang tidak menyekutukan Allah, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.[1]
            Lalu tidak lupa banyak beribadah kepadaNya dengan menegakkan sholat, sedekah, berdzikir dan membersihkan jiwa dengan berbagai amalan dan ibadah lainnya.
                        إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
            ”Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).”(Faathir 35:18).
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
            “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.”(As Sajadah 31:16).
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
            “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”(An Nuur 24:37).
            Dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Utsman bin Affan, Rasulullah bersabda :
            [2]من بنى مسجدا يبتغي به وجه الله، بنى الله له مثله في الجنة
            “Barang siapa yang membangun masjid dengan mengharapkan wajah Allah, Allah akan membangunkan baginya yang seperti itu di syurga.”
            Hadits yang senada diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Umar bin Khattab RA, Rasulullah berkata :
            [3]من بنى مسجدا يذكر فيه اسم الله، بنى الله له بيتا في الجنة
            “Barang siapa yang membangun masjid untuk mengingat di dalamnya nama-nama Allah, Allah akan membangunkan baginya rumah di syurga.”



[1] Ibid 6:544
[2] Tafsir Ibnu Katsier 6:62
[3] Ibid Tafsir Ibnu Katsier

Monday, 2 September 2013

Sambutan Pelepasan Calon Haji

Sambutan Direktur Utama PT MAGELANG (Persero)
Dalam rangka Pelepasan Jama’ah Calon Haji Tahun 1434H

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Alhamdulillah. Wa sholatu wa salamu ‘ala rosulillah, wa la haula wa la quwata illa billah. Asyahadu ‘alla ilaha ilallah wahdahu la syarikalah. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosulullah, la nabiya ba’dah.
Puja dan puji hanya untuk Allah Sang Pemilik Ka’bah. Ka’bah tempat ummat dari berbagi penjuru menyatukan arah. Sebuah tempat yang dibayangkan setiap insan dengan terseyum indah, seraya berguman kapankah saatnya kami berziarah.

Sholawat serta salam semoga tersampaikan kepada Rosulullah Sang Pembawa Risalah. Risalah sebagai pedoman manusia untuk berbenah. Sehingga ia mendapatkan sukses di dunia tanpa melupakan al jannah.
Hadirin dan hadirat rahimakumullah. Hampir tiap tahun kita berkumpul disini dalam acara pelepasan jama’ah calon haji yang berasal dari pegawai PT MAGELANG (Persero) baik beserta suami atau istrinya maupun yang sendiri. Alhamdulillah semua calon jama’ah haji yang hadir disini atas biaya pribadi. Ini menunjukkan kekuatan iman dan Islam dalam rangka menunaikan rukun Islam yang kelima.