Translate

Mencari Artikel

FIND(Mencari)

Monday, 7 April 2014

Berlindung Dari Lilitan Hutang



TERLILIT HUTANG
           
            Dalam hidup ini kadang kita dalam kecukupan, namun kadang pula dalam kekurangan. Kadang kita di atas namun kadang jatuh ke bawah. Kadang kita memberi namun kadang pula kita diberi. Kadang kita berhutang karena ingin membeli sesuatu atau karena terpaksa harus kita lakukan. Untuk itulah, sebelum kita jatuh, sebelum kita bangkrut hendaknya banyak berdo’a dan berlindung kepada Allah dari lilitan atau dikuasai hutang (ghalabatid daini). Semoga dengan do’a ini kita selalu hidup stabil atau bahkan ekonomi keluarga selalu mengalami peningkatan sehingga tidak perlu berhutang yang melebihi kemampuan kita dalam membayarnya.


8.1.            Pengertian Terlilit Hutang
Dalam hadits perlindungan ini ada dua kata yang digunakan yaitu ghalaba yang maknanya dia dikuasai dan dhola’a yang maknanya fakir/miskin. Namun oleh para ulama di Indonesia dimaknai dengan arti terlilit.
Berdasarkan makna tekstual tersebut dapat kita ambil kesimpulan kontekstualnya. Bahwa yang dimaksud dengan terlilit hutang adalah dikuasai hutang. Artinya kehidupan orang tersebut berada di bawah kendali hutang, karena ia tidak memiliki kemampuan untuk membayarnya. Atau yang lebih ekstrem orang tersebut bangkrut, sementara hutangnya menumpuk. Sehingga dampak berikutnya ia akan dikuasai oleh orang yang memberikan hutang (kreditur).
Orang yang terlilit hutang dalam fiqih zakat disebut gharimin. Dengan catatan hutangnya terjadi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, atau dalam rangka dakwah atau dalam rangka mendamaikan orang atau suku yang bertikai. Intinya hartanya habis untuk kepentingan yang halal bukan maksiyat. Dalam Islam orang semacam ini berhak atas zakat (mustahik).

8.2.            Ciri-Ciri Terlilit Hutang
Orang yang dikuasai hutang memiliki ciri-ciri secara umum, uang atau hartanya lebih kecil dari hutang yang seharusnya ia bayar. Yang paling parah adalah hartanya pas-pasan sementara hutangnya menumpuk atau dia sama sekali tidak memiliki harta, sehingga hidupnya sangat tergantung dengan hutang.
Ini berbeda dengan pengusaha yang berhutang. Mereka tidak masuk kategori dikuasai hutang dikarenakan kemampuan membayarnya seimbang dengan hutang atau ia memiliki kemampuan membayar hutang, meskipun harus dilakukan secara kredit atau angsuran.
Dengan demikian orang yang aset atau omsetnya lebih besar dari hutangnya tidak masuk kategori dikuasai atau terlilit hutang.

8.3.            Dampak Terlilit Hutang
Dampak orang yang dikuasai hutang dapat dalam bentuk yang sederhana hingga kompleks. Dalam bentuk sederhana bisa dalam bentuk lesu atau kuyu atau kumuh atau sakit atau hanya merasa terhina saja, lebih-lebih jika berhadapan dengan pemberi hutang. Misalnya Indonesia dihadapan negara-negara donor, nampak hina dan lemah serta mudah dikendalikan.
Namun yang parah manakala hutang tersebut membawanya melakukan berbagai tindak kejahatan. Yaitu dengan merampok, mencuri, jual narkoba dan menjadi pelacur untuk membayar hutang. Atau hingga bunuh diri karena selalu dihantui oleh hutang. Atau tertahan di pintu syurga karena ketika di dunia tidak melunasi hutangnya, sampai menunggu datangnya pemberi hutang untuk merelakannya atau sebagian pahalanya dikurangi untuk membayar hutangnya.

8.4.            Mengobati Terlilit Hutang
Kita boleh berhutang, namun jangan sampai terlilit atau dikuasai hutang. Namanya juga hidup kadang kita membutuhkan keperluan rumah tangga seperti  membayar sekolah atau membeli rumah yang tidak bisa ditunda kecuali dengan cara hutang. Karena itulah agar kita tidak dikuasai hutang ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya.




8.4.1.       Naqli (Alqur’an dan Sunnah)

Yang Penting Tetap Bekerja

Sebagian orang lebih suka menganggur dari pada bekerja apa saja yang halal. Kadang mereka memilih-milih pekerjaan yang nampaknya bergengsi tapi penghasilannya pas-pasan. Contohnya bekerja sebagai karyawan kadang upahnya hanya sebesar UMR. Sangat jauh dibandingkan para pedagang kecil di Jakarta yang bisa meraih pendapatan dua kali lipat UMR. Atau sebagai sales girl rokok atau produk lainnya yang harus berjualan hingga malam dengan pakaian dan dandanan yang tidak mencerminkan sebagai wanita muslimah.
Karena itu tugas kita adalah tetap bekerja. Bekerja apa saja yang penting halal. Contohnya burung pergi pagi untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya, lalu pulang sore hari dengan membawa makanan. Atau cicak yang selalu cari makanan di malam hari. Padahal ia tidak bersayap, tapi mampu menangkap mangsanya yang bersayap.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: ”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (At Taubah 9:105).
Rasulullah memberikan wasiyat kepada kita untuk kerja keras. Meskipun hanya mencari kayu di hutan untuk kemudian di jual di pasar.
عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ
Dari Zubair bin Awwam Ra, dari Nabi SAW, sabdanya, ”Apabila kamu menyiapkan seutas tali, lalu pergi mencari kayu, kemudian dibawanya seikat kayu di punggungnya lalu dijualnya, dan Allah memberi kecukupan bagi keinginannya, itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang banyak, diberi atupun tidak.”[1]
عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ
Dari Hakim bin Hizam RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, ”Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang dibawah. Maka mulailah memberi kepada keluargamu. Sebaik-baik sedekah adalah ketika kaya. Barang siapa mohon dipelihara (agar tidak meminta-minta), maka Allah akan memeliharanya dan siapa yang mohon dicukupkan (agar tidak tergantung) maka Allah akan mencukupkannya.”[2]

Menjauhi Hidup Boros
Agar hutang tidak menumpuk salah satu caranya adalah dengan menghindari sikap hidup boros (mubadzir). Yaitu sikap hidup berlebih-lebihan. Kadang membeli atau mengkonsumsi hal-hal yang tidak penting dan bukan kebutuhan yang mendesak.
وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)
26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. 27.Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Al Israa’ 17:26-27).
Yang dimaksud dengan mubadzir adalah israf. Yaitu membelanjakan sesuatu pada jalan yang tidak benar. Atau berinfak tidak sesuai dengan ketentuan. Atau melebihi batasan. Atau berbelanja dalam rangka bermaksiyat kepada Allah. Atau untuk membuat kerusakan.[3]
Contohnya digunakan untuk merokok. Atau digunakan untuk menyawer penyanyi. Sering kita lihat orang-orang yang kurang mampu justru melakukan perbuatan ini. Bahkan rela mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk seorang biduan. Sebagian lainnya dipakai untuk berjudi dan minum minuman keras.
Hidup Sederhana
يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al A’raaf 7:31).
وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
”....Dan jangalah kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al An’aam 6:141).
Yang dimaksud adalah makan dan minumlah apa-apa yang dihalalkan Allah serta  jangan boros dan sombong. Yaitu dengan cara hidup seimbang. Dan jika perlu dalam kondisi yang fakir atau miskin dengan cara hidup sederhana.
Karena hidup sederhana merupakan salah satu solusi untuk menghindari hutang. Kalau kita tidak bisa makan daging kenapa tidak makan telor saja. Kalau telor satu tidak kuat kenapa tidak dibagi menjadi empat. Kalau tidak sanggup pula kenapa tidak makan dengan tempe saja. Kalau masih berat juga kenapa tidak cukup dengan nasi, kerupuk dan sambal. Atau nasi dengan garam. Atau jika perlu melakukan puasa sunnah sebagaimana sering dilakukan Nabi bila tidak ada makanan.
Contohnya Nabi SAW rumahnya sangat sederhana, kecil dan beratapkan pelepah daun kurma. Tidur di atas tikar, sehingga apabila bangun nampak bekas tikar pada tubuhnya. Beliau kadang makan kadang puasa.
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا تغدا لم يتعش وإذا تعشى لم يتغد[4]
”bahwasanya Rasulullah SAW apabila telah makan siang, beliau tidak makan pada petang hari dan apabila telah makan petang hari, beliau tidak makan pada siang hari.”
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ طَعَامٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ حَتَّى قُبِضَ[5]
Tidaklah keluarga Nabi Muhammad SAW merasakan kenyang dari makanan tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat.”
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلَاثَ لَيَالٍ تِبَاعًا حَتَّى قُبِضَ[6]
Tidaklah keluarga Nabi Muhammad SAW sejak tiba di Medinah merasakan kenyang dari makanan gandum tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat.”
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خُبْزِ بُرٍّ فَوْقَ ثَلَاثٍ[7]
Tidaklah keluarga Nabi Muhammad SAW merasakan kenyang dari roti dan  gandum lebih dari tiga hari.”
عَنْ أَبِي طَلْحَةَ قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُوعَ وَرَفَعْنَا عَنْ بُطُونِنَا عَنْ حَجَرٍ حَجَرٍ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَجَرَيْنِ[8]
Dari Abu Thalhah, dia berkata, ”kami pernah mengadukan kepada Rasulullah akan kelaparan dan kami mengangkat dari perut kami batu demi batu, maka Rasulullah SAW mengangkat (dari perutnya) dua buah batu.
إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقيم ظهره بالحجر من الغرث
Sesungguhnya Rasulullah SAW menegakkan tulang punggungnya dengan batu karena menahan lapar.”

Berdoa Dari Lilitan Hutang
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الْعَدُوِّ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ[9]
Bahwasanya Rasulullah SAW pernah berdo’a dengan kalimat, “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hutang yang menumpuk dan dari musuh yang menjajah dan dari kegembiraan dari musuh-musuh kami.

Mempersiapkan Masa Depan
Agar tidak terbelenggu oleh hutang, maka sejak dini kita harus mempersiapkan masa depan. Yaitu dengan menabung jika ada rejeki yang lebih. Karena kita tidak tahu apakah hari esok kita masih di atas. Sebab sunnatullah kehidupan, kadang di atas kadang di bawah. Kadang untung kadang rugi. Kadang menang dan kadang kalah.
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”( An Nisaa’ 4:9).
Meskipun ayat ini terkait dengan waris mewaris, namun sebagian ulama, khususnya yang bergerak dalam bidang asuransi memahami bahwa yang dimaksud dengan lemah adalah lemah ekonomi. Untuk itu salah satu solusinya yaitu dengan mengasuransikan anak-anak kita pada asuransi syari’ah. Atau dalam arti lebih luas yaitu dengan cara menabung. Meskipun sedikit lama-lama menjadi bukit.



8.4.2.       Aqli (Akal, ilmiyah dan kisah)

Membuat Rencana Keuangan
 Jika dalam perusahaan ada RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan), maka dalam rumah tangga kita perlu membuat rencana keuangan rumah tangga. Sehingga kita mengetahui antara kemampuan dan kebutuhan. Jangan sampai besar pasak dari pada tiang. Tentu saja lama kelamaan rumahnya akan ambruk.
Caranya dengan mengetahui berapa rata-rata penghasilan kita per bulan. Kemudian melihat daftar kebutuhan selama satu bulan. Dalam hal kebutuhan lebih besar dari penghasilan maka perlu dibuat daftar prioritas kebutuhan. Yaitu dengan cara mendahulukan kebutuhan yang bersifat primer semisal sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan.
Dalam hal tidak cukup maka harus dicarikan jalan keluar. Misalnya dengan mencari tambahan rizki yang halal, atau hidup lebih hemat dan sederhana. Jika tidak ada sumber pendapatan lainnya maka hutang merupakan langkah terakhir selama hutang tersebut dapat dibayar secara cicilan atau sesuai kemampuan keuangan kita.

Buat Prioritas Hidup (Primer, sekunder tersier)
            Dalam ajaran Islam kita mengenal al ahkam al khamsah. Yaitu lima hukum fiqih dalam Islam yang terdiri dari halal, sunah, mubah, makruh dan haram. Artinya sejak dini Islam mengajarkan kepada kita untuk mendahulukan apa yang harus didahulukan. Dan mengakhirkan apa yang harus diakhirkan.
            Dalam fiqih kita iajarkan mana yang primer (dharurat), mana yang sekunder (hajiyat) dan mana yang tersier (tahsinat). Jika penghasilan kita pas-pasan maka lupakan yang tahsinat. Misalnya HP itu hajiyat namun HP yang bermerk adalah tahsinat. Maka pilihlah HP yang sesuai fungsinya saja. Yang penting dapat untuk telephone dan SMS, meskipun tidak dapat untuk main internet atau facebook atau BBM.


Cari Istri Yang Hemat dan Dapat Mengelola Uang
   Cari istri yang hemat dan dapat mengelola uang adalah kebutuhan, khususnya bagi mereka yang belum menikah. Karena betapa banyak orang yang jatuh karena istri atau karena urusan wanita. Sebab Allah menjamin akan memberi rizki dan menjadikan cukup orang yang menikah.
Dengan istri yang sholihat, hemat dan dapat mengatur keuangan dengan baik maka harta yang sedikit akan nampak menjadi banyak karena barokahnya istri. Contohnya banyak orang yang sebelum menikah uangnya selalu habis, namun setelah menikah dapat membeli rumah dan kendaraan. Ini semuanya berkat istri yang pandai mengatur urusan keuangan.

Jangan Belanja Melebihi Kemampuan atau Sesuatu Yang Tidak Dibutuhkan
            Sering kita lihat anak-anak sekarang atau keluarga muda zaman ini dimana suami istri sama-sama menggunakan Black Berry atau memegang i-Pad atau menggunakan sepatu dan pakaian yang mewah. Padahal penghasilan mereka hanya sebesar UMR. Kadang karena penasaran saya lihat rumahnya. Ternyata ia masih mengontrak rumah dan kadang masih nyusahin orang tuanya.
            Hal itu dikarenakan ia membeli sesuatu yang tidak terlalu penting dan tidak terlalu dibutuhkan. Kadang karena hanya mengejar trend dan gengsi atau gaya hidup. Akhirnya ia memaksakan diri membeli sesuatu dengan kartu kredit.
            Padahal trend atau gaya hidup umurnya hanya sementara. Coba lihat elektronik, setiap hari ia berubah dengan cepat. Demikian pula harganya. Yang dulunya seharga 10 juta, maka beberapa tahun kemudian akan turun menjadi 5 juta. Lalu datang model baru lagi yang hanya berbeda sedikit saja fasilitasnya.

Beli Barang Karena Kegunaannya Bukan Merknya
            Untuk itu mari kita membeli sesuatu karena kegunaannya, bukan karena merknya atau mengikuti gaya hidup.  Contohnya membeli baju, celana atau sepatu atau asesoris atau makan makanan yang enak. Semuanya itu akan habis dan tidak menyisakan apa-apa. Kecuali hanya kesenangan sementara.
            Padahal baju seharga 100 ribu dengan baju seharga 500 ribu tidak ada bedanya di depan umum. Toh dalam Islam orang dinilai bukan karena mahalnya pakaian yang dikenakan dan makanannya yang mahal namun dinilai karena iman dan takwanya.
            Terkait dengan asesoris atau hobi banyak yang membelinya dengan harga yang cukup wah. Padahal semuanya itu hanya perhiasan yang bersifat sementara. Coba kalau kita belikan emas atau tanah atau batu mulia lainnya, hal itu tentu akan lebih bermanfaat sebagai investasi di kemudian hari.

Menyewa atau Membeli
            Jika kita tidak mampu membeli kenapa tidak menyewa saja. Dari pada memaksakan diri hutang di luar kemampuan namun akhirnya dikejar-kejar abang kerdit atau bank atau debt colector lebih baik menyewa sesuai kemampuan. Sebab dunia ini bukan milik kita. Yang penting bagi kita adalah memanfaatkan bukan memiliki.
            Kadang kalau kita membeli justru mengeluarkan anggaran lain yang lebih besar. Serta merepotkan diri kita. Contohnya membeli mobil bagi orang yang rumahnya kecil dan tidak punya lahan parkir. Maka ia harus menyewa tempat parkir, di Jakarta paling tidak 300 ribu per bulan. Setahun berarti sudah 3,6 juta, belum lagi biaya bensin, biaya perawatan, biaya asuransi, biaya tilang dan biaya mencuci mobil. Lalu biaya ketakutan yaitu takut hilang atau takut rusak.
            Berbeda dengan menyewa mobil. Kita cukup bayar sesuai kebutuhan. Setelah itu kita tinggal tidur dengan nyaman karena sudah termasuk drivernya. Serta tidak perlu ketakutan, sebab asuransi dan lainnya sudah dijamin oleh rental.

Berfikir Jangka Panjang (Investasi)
Marilah kita berfikir jangka panjang dalam hidup ini. Sejak dini kita harus berinvestasi dengan menabung. Baik dalam bentuk uang atau emas atau tanah atau pohon. Caranya dengan menyisihkan sebagian rejeki kita. Jangan kita habiskan gaji bulanan kita. Tabunglah sebagian.
Karena hidup kita ini, insya Allah panjang antara 60 sampai 70 tahun. Maka kita harus mempersiapkan pendidikan anak-anak kita. Mempersiapkan jaminan pemeliharan kesehatan kita di kemudian hari. Mempersiapkan pernikahan anak-anak kita  dan membesarkan mereka untuk menjadi generasi yang mandiri.
Langkah lainnya tentu saja mencari pendapatan tambahan. Dari pada facebook hanya untuk ngoceh yang tidak berguna lebih baik dimanfaatkan untuk alat pemasaran. Dari pada I-Pad hanya untuk main game maka dapat digunakan sebagai pusat informasi data untuk menulis buku.
Daripada perkutut atau anggrek yang mahal hanya untuk hobi, lebih baik diternakkan dan dibudidayakan. Dari pada kaos olah raga hanya untuk nge-fans kepada negara atau klub tertentu lebih baik ikut jualan. Karena ciri manusia sukses adalah bekerja dan berjualan.
Silahkan jualan apa saja yang halal. Dengan cara menjual anda akan menjadi kaya sehingga tidak terlilit hutang.

Kisah Ali RA
Beliau berkata, “Wahai uang emas, wahai uang perak, tidaklah mungkin aku melimpahkan kesalahanku kepada orang lain dengan cara begini dan begitu.” Lalu beliau membagikannya semuanya sehingga yang tersisa hanya tinggal satu dinar (uang perak), sedangkan uang dirham (emas) tidak ada satupun yang tersisa, lalu beliau memerintahkannya untuk memberikan dinar tersebut. Setelah itu beliau mengerjakan sholat dua raka’at di dalam baitul maal tersebut.”[10]
Adh Dhirar berkata, “Demi Allah, Ali itu memiliki pandangan yang jauh ke depan, memiliki kekuatan yang hebat, perkataannya rinci, berlaku adil dalam memutuskan hukuman, memancarkan ilmu dari berbagai arah, kata-katanya penuh hikmah, menjauhkan diri dari dunia dan kemewahannya, demi Allah, di tengah gelapnya malam beliau bangun dan mencucurkan air matanya, panjang pikirannya, terbuka tangannya (dermawan), menasehati dirinya, menyukai pakaian yang kasar, dan makanan ala kadarnya…”[11]
Syaikh Khalid Muhammad Khalid berkata, “Imam (Ali)membeli barang-barang kebutuhan keluarga dan membawanya dengan kedua tangannya.”[12]
Umar bin abdul Aziz berkata, “Orang yang paling zuhud adalah Ali bin Abi Thalib.”[13] Ali RA berkata, “….Aku tidak ingin kenyang sementara disekelilingku banyak perut kelaparan dan hati-hati yang pedih.”[14]


[1] Shahih Bukhari 5:320:1378
[2] Shahih Bukhari 5:248:1338
[3] Tafsir Thabari 17:4280429, lihat juga Tafsir Ibnu Katsier 5:69
[4] HR Thabarani 2:385:634, Syubul Iman Baihaqi 12:131:5405
[5] Shahih Bukhari 16:467:4955
[6] Shahih Bukhari 17:30:4996
[7] Shahih Muslim 14:226:5277
[8] Sunan Turmudzi 8:374:2293
[9] Sunan Nasai 16:365:5380, shahih.
[10]Ibid hal. 218.
[11]Ibid
[12]Khalid Muhammad Khalid hal. 404.
[13]Ibid.
[14]Ibid hal. 434.

1 comment:

Ikmaluddin Husnah said...

Saya Ikmaludin Husnah dan saya mengambil saya keluar waktu untuk bersaksi tentang ibu Amanda karena dia akhirnya menawarkan saya.
Saya dan suami saya masuk ke utang yang sangat besar dengan Bank dan kami mencari pinjaman dari perusahaan pinjaman yang berbeda tetapi semua datang ke sia-sia. Sebaliknya mereka masuk kami ke lebih banyak utang, meninggalkan kami bangkrut sampai aku datang dengan ibu Amanda, yang menawarkan pinjaman. Sekarang kita memiliki akhirnya menetap utang kami dan memulai bisnis baru dengan uang kiri dari pinjaman. Anda dapat menghubungi dia kemarin untuk pinjaman apapun, dan jumlah.
Hubungi Ibu Amanda melalui email berikut. amandaloans@qualityservice.com atau amandarichardson686@gmail.com atau Anda hanya dapat menghubungi saya melalui email saya untuk lebih lanjut lebih petunjuk ikmahusnah@gmail.com